Sabtu, 14 Januari 2012

“GADIS LUMPUH DENGAN CINTANYA”


 “Anak anak tinggal tiga hari lagi kita memasuki tahun baru 2001, semoga di awal tahun baru ini kita semua bisa mendapatkan pengalaman dan kehidupan yang baru. Mari selesai shalat Magrib berjamaah nanti kita berdo’a semoga di awal tahun depan nanti dapat menjadi lebih baik dari tahun ini.”  Dengan suara pelan namun jelas dan terdengar oleh seluruh anak anak ucapan dari Bu Asih sapaan akrabnya, yang merupakan salah satu pengasuh dari panti asuhan Griya Mandiri. “Amiin Ya Robbal Alamiin” jawab serentak para anak anak panti, yang waktu itu sedang berolahraga di halaman panti, memang setiap hari jum’at paginya ada kegiatan khusus berolahraga di panti asuhan tersebut. Hari ini adalah hari Jum’at tanggal 29 desember 2000 sedangkan tahun baru nanti jatuh pada hari senin, seperti tahun tahun sebelumnya panti asuhan Griya Mandiri selalu mengadakan pesta kembang api walau tak semarak di kota, pesta kembang api ini untuk menghibur anak anak panti yang memang jauh dari orang tuanya maupun mereka yang sudah yatim sejak kecil. Panti asuhan Griya Mandiri adalah panti penyandang anak anak cacat, ada dari mereka yang tak punya sebelah tangan, tak bisa melihat karena buta dari lahir, ada yang bisu dan tuli, bahkan ada seorang perempuan cantik yang lumpuh, setiap harinya ada di atas kursi roda dan mengandalkan teman, pengasuh, maupun kedua tangannya untuk menggerakkan kursi rodanya.
Pagi itu sekitar pukul 09.00 waktu indonesia bagian barat memang terlihat matahari mulai menyongsong, namun tak menyurutkan niat anak anak panti untuk tetap berolahraga dan mendapatkan vitamin D dari sinar matahari, tak ketinggalan gadis lumpuh yang diatas kursi rodapun ikutan berolahraga dan mencari asupan vitamin D dari sinar matahari, walau terlihat di barisan paling belakang ternyata ia tetap bersemangat serta menggerakan kedua tangannya untuk meregangkan otot ototnya.
Gadis cantik itu adalah Syifha Nur Humaira yang akrab di panggil dengan nama Syifha salah seorang anak dari keluarga yang mampu, namun dengan pekerjaan kedua orang tuanya yang sibuk maka syifha di titipkan di panti asuhan tersebut sejak usia 6 tahun. Dan saat ini usianya 19 tahun namun di bulan april nanti tepatnya, walau demikian ia tak pernah membenci kedua orang tuanya, karena ia sadari mereka mencari nafkah juga untuk dirinya dan membantu anak anak lain yang ada di panti itu, syifha dengan rendah hati menerima keadaan semuanya walau ia sadari dirinya tak sempurna. Ia tetap ceria dan bersenda gurau pada teman temannya, tak terlihat sedikitpun rasa putus asa dan mengeluh di wajahnya, ceria dan senyum manisnya selalu melekat pada dirinya.
“Syifha, mau ibu antar ke belakang atau langsung masuk dalam panti”  tanya bu Asih dengan lembut. Oh Ibu, hihihiiii maaf tadi melamun jadinya kaget bu asih nanya langsung ke syifha. Tidak usah bu’ biyar nanti syifha masuk sendiri saja, syifha masih ingin di luar dulu”  Jawab syifha pada bu Asih. “Ya udah tapi jangan lama lama di luar yaa, sebentar lagi waktunya makan pagi.”  Sahut bu Asih. “Iyaa bu”  balas syifha. Kini syifha sendirian ada di teras panti sedangkan anak anak panti yang lain sudah masuk ke dalam ada yang membantu menyiapkan makan dan beberapa anak membersihkan ruang tamu.
Terlihat dari kejahuan pak Darman memandangi syifha, dan menghampirinya dengan menyapa lirih “wonten nopo nduk, kok melamun wae bapak perhatikan.”  Pak Darman adalah penjaga panti asuhan usianya sekarang sudah 53 tahun, sesekali waktu siang beliau menyambangi panti untuk melihat keadaan atau bahkan ada yang membutuhkan bantuannya. Pak Darman bekerja malam hari mulai pukul 7 malam sampai 6 pagi, jadi kesempatan syifha untuk mengobrol lama dengan pak darman biasanya malam hari di teras panti. Selain pada bu Asih yang di anggapnya sebagi ibunya sendiri, syifha juga terlihat sangat akrab dengan pak darman jadi sering kali ia menceritakan kesehariannya bahkan keinginannya untuk menikah seperti orang orang normal lainnya. “Eh Bapak, lagi ingin santai sebentar, Bapak ada perlu jam segini kok ada di panti”. Jawab Syifha dengan memandang wajah pak darman. “Ora nduk, Cuma liat keadaan panti saja” sahut pak darman sambil menarik kursi teras untuk duduk dan mengobrol sama syifha.
Syifha anaknya memang sopan dan cara bahasa bicaranya pun sangat santun. Wajar selama ini ia benar benar di didik oleh pengasuh dari panti Griya Mandiri terutama bu Asih yang setiap hari mengajarinya untuk slalu menghormati orang lain, dan sopan pada siapapun agar orang lain juga sopan terhadap kita. Walau terasa kurang kasih sayang dari orang tuanya syifha tak pernah membahasnya karena ia memiliki keluarga dan saudara saudara yang slalu memberinya semangat untuk slalu berusaha. Sedangkan bu Asih dan pak Darman ia anggap seperti orang tuanya sendiri, yang setiap saat setiap ucapan pasti ada wejangannya hingga akhirnya membuat hatinya syifha tenang dan damai.
Walau terlahir tak sempurna hanya dengan kedua tangannya ia beraktifitas namun ia masih punya semangat dan kemauan. Sampai kini dokter hanya memvonis bila syifha terkena kelumpuhan sejak lahir kedua kakinya lumpuh tidak bisa di gerakkan namun masih bisa merasakan sakit, dan ia menolak untuk di amputasi. Ternyata di usia yang mau menginjak ke 19 tahun ia mempunyai keinginan untuk menikah, keinginan itu ia sampaikan pada bu Asih dan pak Darman yang benar benar ia percaya bisa untuk memberinya semangat. Tak di sangkal ternyata bu Asih dan pak Darman sangat senang mendengar kemauan syifha tersebut untuk menikah, orang tua angkatnya itu slalu memberikan arahan dan wejangan untuk menjadi yang lebih baik. Dan slalu untuk meminta memohon pada Rabb  sepanjang waktu di setiap sujudnya, walau tak dipungkiri bila syifha anaknya taat beribadah dan mengaji setiap ba’da magrib dan subuh. Dengan begitu orang tua angkatnya memberikan pernyataan bahwa suatu nanti kamu pasti bisa menikah dan kamu pasti bisa mendapatkan jodoh yang baik, yang bisa membimbingmu dan menjadi imammu nanti. Syifha hanya tersenyum dan memeluk tubuh bu Asih dengan erat, ia semakin mantap dan percaya untuk menikah serta mendapatkan suami seperti pintanya.
*******

 Waktu semakin berlalu, hari ini sabtu siang pukul 13.00 seperti biasa kegiatan di panti setelah shalat zduhur berjamaah di antara mereka ada yang mengaji bahkan ada yang tiduran di mushola, karena siang ini tak seperti biasanya hawanya terasa panas dan mengantuk sedangkan di musholla ada kipas angin jadi lebih bisa beristirahat dan tiduran. Terlihat di shaf barisan belakang jamaah perempuan syifha bersandar di dinding mushola sambil membaca al qu’an, selain pandai mengaji ia juga diminta oleh teman temannya untuk mengajari bahasa arab yang pernah pelajari saat khursus di sela sela ia sekolah. Terlihat jam dinding musholla sudah menunjukkan pukul 16.05 sore, suara adzan ashar terdengar merdu yang di kumandangkan oleh Yanto salah satu anak yatim yang mengalami kebutaan sejak umur 6 tahun. Kini usianya sudah 21 tahun namun ia tetap berusaha untuk menjadi dirinya sendiri menopang hidupnya untuk bisa mandiri tanpa belas kasih orang lain. Ia juga punya impian menjadi ustad walau matanya buta ia sudah mengkhatamkan al qur’an beberapa kali, ia belajar membaca dengan menggunakan al qur’an tulisan arabnya timbul, sesaat juga mendengarkan lantunan surat surat dari tipe yang ia putar.

“Anak  anak sore ini kita akan kedatangan tamu dari kota, ibu harap semuanya sopan dan menghormati tamu nantinya.”  Ucap bu Asih mengawali pembicaraan di ruang tengah saat berkumpul bersama sama untuk menyambut kedatangan tamu tersebut. “Siapa bu tamunya laki atau perempuan darimana dan mengapa kesini” celetuk anton yang masih berusia 10 tahun. “Tamunya adalah Mas Andi dan Mas Toni dari kota, mereka datang ke panti ini untuk menyelesaikan tugasnya membuat skripsi, jadi mereka tinggal di panti samapi tanggal 2 january 2001, dan ibu meminta pada semuanya agar sopan dan menghormati mas andi dan mas toni yaa.”  “Iyaa bu Asih” jawab serentak anak anak di ruangan tersebut.
Menunggu dan menunggu jam dinding ruang tengah telah menunjukkan pukul 21.00 malam dan tamu yang di tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya. “Karena sudah malam adik adik pada tidur aja yaa, biyar kakak syifha dan pa darman saja yang menunggu mas andi dan mas toni, besok kalian kan harus bangun pagi untuk shalat subuh berjamaah.”  Kata syifha pada anak anak panti yang sudah waktunya tidur. “Iyaa deh ka’, shiella juga sudah ngantuk, besok kenalin sama shiella ya ka”. Ucap shiella dengan mata yang sudah ngantuk. Biasanya jam 21.00 anak anak sudah pada tidur, dan malam ini harus menunggu tamu nyatanya belum terlihat juga.
Dari arah jalanan terlihat dua pemuda turun dari ojek dan terlihat di jam tangan pak darman sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. “Assalamu’alaikum”  sallam andi dan toni pada pak darman dan syifha yang memang sengaja menunggu mereka di teras panti. “Walaikum sallam waroh matullahi wabarokatuh”  Jawab syifha dan pak darman. “Dek Andi kok malam betul sampainya, apa ada halangan di jalan”  Tanya pak darman. “Oh iyaa maaf pak sebelumnya jadi ngrepotin sampai malam menunggunya, iya pak tadi di jalan ada orang kecelakaan jadi bus yang kami tumpangi harus berhenti dulu karena dijalanan pada ramai warga yang menolong dan menonton”  Sahut Andi sambil menatap wajah perempuan yang duduk di kursi roda tepat di hadapannya, dalam batinnya sungguh cantik dan menawan hati, siapalah gerangan gadis berjilbab putih yang duduk di kursi roda ini. “Ayoo mas andi dan mas toni silahkan masuk ke dalam, sudah malam nanti kedinginan di luar, mari saya antar ke dalam dan saya tunjukan kamar mas andi dan mas toni nanti” celetus syifha dengan senyuman kas nya yang memang membuat lelaki kesemsem. “Yaa sudah malam silahkan masuk mas bapak tak jaga di luar saja, kalau ada perlu bisa panggil saya” sahut pak darman melanjutkan pembicaraan dari syifha.
Mereka bertiga masuk dalam ruang tamu panti, dan andi masih menatap dengan penasaran siapa gerangan gadis ini selain cantik ia sopan baik dan membuat hatiku berdetak terus. Maklum malam itu semua penghuni panti sudah pada tidur kecuali syifha yang memang sudah berjanji untuk menyambut kedatangan mas andi dan toni. Setelah di persilahkan duduk di kursi ruang tamu syifha beranjak ke dapur “sebentar yaa mas, saya buatkan minum dulu”  ucap syifha sambil berlalu menuju dapur. “Oh iyaa, makasih banyak mbak, maaf yaa merepotkan”  balas toni. Tak terasa jam dinding ruang tamu sudah menunjukkan jarumnya tepat 22.30 malam, dengan di temani syifha mereka berdua terlihat capek duduk bersandar di kursi, setelah minuman mereka habis syifha mempersilahkan untuk istirahat di kamar, “mari mas saya antar ke kamar, pasti sudah terasa capek perjalanan jauh dari kota ke sini, mudahan di kamar ini mas andi dan mas toni bisa beristirahat dengan nyaman” sambil menunjukkan kamar yang tak terlihat besar namun rapi dan cukup untuk untuk ukuran tidur berdua. “Makasih banyak mbak... mbak.... siapa yaa namanya maaf belum sempat kenalan tadi, sudah mengobrol tapi belum tau namanya”,  heheheeee dengan seyum kecil andi mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan syifha. “maaf mas yaa saya juga lupa tidak memperkenalkan diri, saya syifha jadi kalau ada perlu sesuatu bisa mencari saya” sahut syifha sambil menerima uluran tangan andi yang ingin berjabat dengannya, begitu juga toni menyalami syifha. “Ya sudah berhubung sudah malam selamat malam dan selamat tidur ya mas – mas, oh yaa ada satu lagi setiap shalat wajib kami melakukannya secara berjamaah, jadi bila mas andi dan mas toni besok pagi tidak capek mari berjamaah dengan kami di musholla samping panti”  ucapan selamat malam untuk kedua tamunya serta menambahkan untuk shalat berjamaah syifha sambil berpamit untuk kembali ke kamarnya dan tidur. Sebelum meninggalkan kamar, “terimakasih banyak yaa mbak syifha sudah banyak membantu kami, inyaallah bila besok pagi kami bangun lebih awal kami ikut berjamaah shalat subuh di musholla” sahut toni setelah syifha meninggalkan kamar toni ia pun menutup kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa banyak capak mereka berdua langsung tidur.
Hari ini minggu pagi 31 desember 2000, setelah melakukan shalat subuh berjamaah anak anak panti pada belajar mengaji begitu juga dengan syifha seperti biasa ia bersandar di dinding sambil membaca al qur’an. Terlihat di barisan paling depan sebelah kanan ada andi dan toni yang baru selesai shalat subuh berjamaah mereka mencoba mengikuti kegiatan dan keseharian anak anak panti yang setiap pagi setelah berjamaah subuh untuk mengaji. Walau andi dari kota dan terlahir dari orang tua pengusaha ia selalu menjalankan kewajibannya sebagai muslim karena dari kecil ia sudah di didik dengan ilmu agama oleh orang tuanya. Tidak seperti kebanyakan pemuda kota sekarang yang menghabiskan hari harinya untuk berpesta, bermain dan semaunya sendiri, jauh berbeda dengan andi anak dari Hardjayanto pengusaha meubel asal kota Kediri Jawa Timur.
******

Minggu pagi yang cerah dengan cahaya sinar matahari yang mulai menampakkan wujudnya dari timur, walau sedikit terasa dingin dengan embun pagi yang belum hilang oleh sinar matahari, seluruh anak panti bersama dengan toni dan andi berada di halaman panti yang memang cukup luas untuk melakukan berbagai kegiatan. Terlihat andi memandangi syifha dari kejahuan yang sedang duduk di atas kursi rodanya dekat pekarangan bunga yang di tanam oleh anak anak panti. Sesekali syifha melempar senyum manisnya pada andi sebagai isyarat bahwa ia menyukai bila andi slalu memandanginya dan memperhatikannya. Sejurus kemudian andi menghampiri syifha “boleh yaa saya disini untuk menemani mbak syifha dan sekedar mengobrol ngobrol saja” kalimat pertama yang andi keluarkan setelah berada di samping kiri syifha. “Silahkan mas, saya malah senang bila mas andi mau nemanin syifha, tapi jangan panggil mbak nggak enak langsung syifha saja mas, mas andi ke panti ini dalam kegiatan mas, karena syifha selama disini jarang melihat tamu seperti mas andi yang sampai beberapa hari menginap di panti”  balas dan tanya syifha pada andi. “Saya dan toni dapat tugas akhir dari kampus untuk membuat skripsi dan themanya adalah penyandang cacat yang berusaha untuk mendapatkan haknya, tapi sebelumnya maaf yaa bukanniat saya untuk menyinggung syifha”.  Sambil menunduk andi tersipu malu dan enggan untuk mengatakannya ia takut bila ucapannya menyinggung syifha namun sudah ia katakan tepat di hadapan syifha. “Enggak papa mas, mas andi nggak usah sungkan karena memang itu keadaan dan kenyataannya, jadi kapan mas andi mulai untuk membuat skripsinya”  Tanya balik syifha pada andi. “Tidak buru buru kok yang penting saya sudah tau tempat dan lalar panti ini, jadi sewaktu waktu bisa saja saya membuatnya atau bahkan bila sudah di kota, saya bisa saja kembali kesini untuk cari tau keadaan yang baru”  jawab andi sambil tersenyum.
Dalam percakapan tersebut terlihat andi dan syifha cocok dan tidak ada salah paham maupun pengertian, mereka berdua terlihat saling klop dan menutupi kekurangan satu sama yang lain. Saat itu juga andi mulai menaruh benih benih cinta yang terpendam dalam hatinya, namun ia belum berani mengatakan suka maupun sayang pada syifha karena pertemuan mereka baru saja sehari. “Syifha, sebenarnya kamu itu cantik, baik, pandai mengaji, kamu itu sopan, seumpama kamu bisa menjadi istriku walau kamu tak sempurna aku pasti berusaha untuk menyayangimu dan mencintaimu memberikan yang terbaik untukmu, karena aku jugalah manusia biasa” gerutu andi dalam hati. Setelah mengobrol bersama andi syifha merasa senang dan bahagia terasa ada yang mempedulikan dan memperhatikannya. Waktu berlalu ternyata matahari sudah mulai meninggi dan mereka kembali masuk ke dalam panti, terlihat anak anak panti menyiapkan kembang api dan jajanan kue untuk acara menyambut tahun baru malam nanti.

Jam dinding ruang tamu tlah menunjukkan pukul 19.24 malam, waktunya shalat isyak berjamaah, anak anak panti sudah memadati musholla di waktu andi dan toni masuk dalam musholla, terlihat sekilas andi menengok ke belakang di shaf jamaah perempuan memastikan bahwa syifha juga ada diantara mereka. Namun itu tak membuahkan hasil karena musholla di skat dengan kain putih untuk memisahkan antara barisan laki laki dan perempuan. Iqomat tlah di tegakkan semua jamaah yang ada dalam musholla itu pun bnerdiri dan mulai untuk melaksanakan shalat isyak. Dentang waktu terasa cepat jam musholla sudah menunjukkan 20.00 malam, setelah mengaji beberapa ayat smua anak anak dan pengasuh panti Griya Mandiri berganti pakain dan segera menuju halaman panti. Terlihat beberapa anak sudah menyalakan kembang api serta petasan. Hiruk pikuk halaman panti mulai terasa ramai sesaat kembang api petasan yang meloncar di langit berwarna warni, pak darman, bu asih dan warga skitar panti pun ikut berbondong bondong memasuki halaman panti sekedar menikmati perayaan awal malam tahun baru. Walau masih jam 20.15 malam panti itu sudah ramai, mulai dari anak anak warga skitar pantai sampai nenek nenek yang menemani cucunya terlihat senang dan bahagia. Sesekali mereka mengambil makanan kecil yang disiapkan di atas meja di teras panti, memang sengaja di sediakan untuk malam acara pergantian tahun, seperti tahun tahun sebelumnya yang memang ramai dengan kehadiran warga skitar panti.
Andi bersama toni hanya menemani anak anak panti itu menyalakan kembang api, mereka kadang melihat dari belakang untuk memastikan anak anak tidak terlalau dekat dengan mainannya. Di balik jendela kamar andi menatap tajam gadis cantik itu, ia penasaran mengapa syifha tidak ikutan gabung untuk meramaikan malam pergantian tahun ini. Andi melambaikan tangannya pada syifha dan syifha pun membalasnya dengan melambaikan tangan di sertai senyuman kecil. Tak perlu lama andi untuk mendekati syifha dari luar jendela dan berkata “mengapa kok nggak ikutan ke luar bermain bersama kami, di luar indah banget banyak anak anak penuh keramaian dan petasan kembang api yang menloncar indah di langit, bagaimana bilsa saya temanain untuk ke halaman”  minta andi dengan memelas agar syifha mau melihat indahnya pergantian tahun di halaman panti. “iyaa dech mas, tapi mas andi jangan jauh jauh ya dari syifha, karena syifha takut, syifha trauma waktu dahulu kena petasan yang ter lempar ke badan syifha, dan itu tidak di sengaja, oleh aswar salah seorang anak panti juga”  balas syifha dengan senyum yang merekah dan pipinya yang memerah. “iyaa mas andi janji tidak akan meninggalkan syifha”  jawaban pasti yang membuat hati syifha trenyuh dan bahagia lantas ia hanya tersenyum pada andi mengisyaratkan bahwa ia setuju untuk keluar ke halaman panti untuk melihat indahnya malam tahun baru.
Di malam itu terlihat syifha dan andi seperti seorang kekasih walau hanya sekedar mengobrol dan menemani di penghujung tahun. Semua itu terasa juga oleh bu asih dan pak darman yang melihat kedekatan dan keakraban mereka, Sebelumnya andi sudah di kenal oleh pak darman dan bu asih ia adalah salah satu anak dari pengusaha yang merupakan donatur panti ini. Andi anak yang berpendidikan dan berakhlak baik, jadi bu asih dan pak darman tak pernah berfikiran yang enggak enggak pada andi saat bersama syifha. Malam berlalu banyak warga sekitar yang sudah kembali kerumahya masing masing begitu juga dengan keadaan di panti ynag mulai sepi, terlihat pak darman, bu asih, dan para pengasuh panti membereskan meja maupun sisa makanan yang berserakan di lantai. Malam semakin dingin andi memegang tangan syifha, syifha merasa kaget karena tak seperti biasanya ia merasakan hangat di tubuhnya dan tenang di hatinya, andi berkata “syifha, besok pagi saya harus kembali ke kota dengan toni, saya mohon waktu yang singkat ini bisa memperkenalkan kita lebih dalam lagi, saat pertama aku melihatmu, aku merasa bahagia dan suka pada pandangan pertama, semoga saja perasaan ini tak salah begitu juga denganmu, semoga engkau juga merasakan perasaanku ini”  Syifha hanya terdiam membisu, karena ia tak tahu harus berbuat dan berkata apa. “Saya janji saya pasti akan kembali kesini lain waktu untuk menemuimu, karena saya berharap engkau bisa menjadi istriku kelak nanti”  ucapan andi melanjutkan kata katanya tadi. Lantas ia pun meneruskan kalimatnya “sudah malam, mari saya antar ke kamar, semoga malam ini kamu bisa mimpi indah dan tidur lelap, pagi pagi saya akan berangkat ke kota, saya titip secarik kertas ini sebagai pengganti perasaan saya padamu karena waktu sudah larut malam” sambil menganbil secarik kertas dari kantongnya dan memberikannya pada syifha. Syifha menerima secarik kertas itu tapi ia tetap tak bisa berbicara apa apa, ia kaget dan terasa bagai mimpi. Lalu andi meninggalkan syifha di kamarnya dan secarik kertas yang sudah di terima syifha.
Malam semakin larut jam kecil yang terletak diatas meja syifha menunjukkan pukul 01.45 pagi, namun syifha tak lantas tidur, ia membuka secarik kertas itu dengan penasaran apa isinya, ia mulai membuka perlahan dan melihat tulisan tangan yang rapi seperti tulisan tangan seorang perempuan.
Saat aku dekat denganmu hatiku terasa damai
Saat aku menyapamu engkau membalasnya dengan lembut

Tau kah engkau bila aku mengharapmu
Tau kah engkau bila aku slalu memujamu

Aku menyanyangimu dan aku menginginkanmu
Namun waktu akankah bisa menyatukan kita
Atau kah waktu ini hanya sebagai kenangan semata

Lewat hembusan angin malam
Engkau tak pedulikan itu
Lalui malam yang penuh rasa kantuk
Engkau temani diriku penuh sabar
Karena itu aku ingin slalu bersamamu

Bersama tulisan secarik kertas ini
Aku sapa dirimu dan ingin aku meminangmu

Aku kangen dirimu
Aku kangen kata lembutmu
Aku kangen akan segalanya padamu
Bila nanti aku tlah tak ada disini

Berikan aku sedikit waktu untuk berusaha meminangmu
Dari andi seorang pemuda yang mengagumimu

*****
Sehari dua hari, seminggu dua minggu, bahkan sampai sebulan lebih tak ada kabar sama sekali dari andi, sedangkan besok adalah hari ulang tahun syifha yang ke 19 tahun tepatnya 14 april. Syifha yang sudah terlanjur berharap mendapatkan cinta sejati sekaligus menjadi suaminya ternyata sirna, itu semua hanyalah hayalan semata. “Apa yang sedang aku harapkan, mungkin aku terlalu berlebihan untuk mencintai seseorang, mungkin Allah belum mengijinkan aku untuk mendaparkan sosok lelaki yang memang bisa untuk menjadi imamku” jerit bathin syifha.

Disisi lain andi yang memang benar benar mengharapkan cinta syifha dan ingin menjadikan suaminya sedang berusaha keras untuk meyakinkan kedua orang tuanya, mereka tak menyangka bila anak yang di didiknya sampai kini tlah tumbuh dewasa dan sebentar lagi lulus sarjana harus menikah dengan seorang gadis lumpuh. Gadis yang tidak bisa memberikan hal positif dalam keluarganya nanti. Jadi orang tua andi menyuruh andi untuk berfikir lebih baik kedepannya, bagaimana nanti bila andi punya anak dari gadis klumpuh itu, siapakah yang nantinya merawat anaknya. Suasana di ruangan depan tivi itu terlihat hening setelah orang tuanya melarang untuk menikahi gadis lumpuh. Andi hanya bisa meneteskan air mata dan berharap bila orang tuanya merestuinya, walau orangtuanya tak menyetujui bila andi menikahi gadis lumpuh itu, ia tetap berbakti pada orangtuanya, tak terlihat sedikitpun kata kata yang menyinggung atau bahkan membuat orang tuanya marah. Ketika malam menunjukkan pukul 21.19 di depan ruangan tivi yang terlihat lumayan mewah tersebut. Keluarkah kata kata “Jadi begini andi, bapak dan ibu sebenarnya tidak melarang kamu menikah dengan siapapun, itu semua adalah kemauanmu dan nantinya kamu juga yang menjalaninya, ayah dan ibu hanya ingin kamu bisa berfikir dan bertanggung jawab dengan keputusanmu nantinya. Bapak dan ibu tidak ingin kamu hanya mempermainkan gadis itu, mereka itu sama seperti kita, mereka juga perlu kasih sayang, dan mereka juga mempunyai rasa cinta yang thulus, walaupun keadaan mereka tak sempurna. Jadi bapak ibu serahkan keputusan itu padamu sepenuhnya”  jawaban yang keluar dari orang tua andi yang memang sungguh tidak di sadarinya, ternyata orangtuanya sangat bijaksana menyayangi andi dan memberikan masa depan sepeuhnya pada dirinya sendiri. Andi merasa tenang dan senang. “Makasih banyak Pak Bu andi sudah di berikan kepercayaan untuk masa depan andi” sambil meneteskan air mata ia bersipangkuh di pangkuan bapak dan ibunya dengan mata berbinar binar orang tuanya juga senang dengan keadaan andi sekarang ini. Malam itu juga andi meminta pada bapak dan ibunya untuk menemaninya besok sore datang ke panti, ia ingin bapak dan ibunya melamarkan syifha untuknya. Orang tuanyapun menyetujuinya.

Keesokan harinya di panti terlihat seperti biasanya, walau hari ini ada yang ulang tahun tak ada yang istimewa dari panti ini maupun pengasuhnya. Semua berjalan seperti biasa, dan terlihat syifha yang duduk di kursi teras dengan raut muka yang ceria. “Selamat ulang tahun yaa nak, moga impiannya bisa cepat terkabul”  Ucap bu Asih. “Amiin, maksih bu” sahut syifha. Begitu juga dengan pak darman “Iyoo nduk, moga cepat dapat jodoh dan nikah, siapa tau Allah memberikan jodoh dan cintamu di usiamu yang ke 19 tahun ini”.  “Amiin, inggih makasih banyak pak darman”  sahut syifha dengan muka berseri seri ternyata harapan itu memang ada, orang orang terdekat banyak yang memberiku semangat, mudahan saja itu semua cepat terwujud, “amiin” ucap dalam hati syifha.

Siang tlah berlalu jam dinding di teras menunjukkan pukul 16.35 sore, terlihat sebuah mobil berwarna hitam pekat memasuki halaman panti. Pak darman yang sore itu sudah berada di panti langsung menyambut siapa gerangan yang ada dalam mobil tersebut.
“Assalamu’alaikum”  sallam andi sembari membuka pintu mobil tengah di ikutin dengan bapak dan ibunya yang duduk di depan. “Walaikum sallam” Mari mas andi, pak, bu, monggo silahkan masuk kedalam”  Jawab sallam pak darman sembari mempersilahkan masuk ke dalam panti. Di dalam panti ternyata sedang berkumpul syifha, bu asih dan para pengasuh panti. Tak lama di dalam ruangan tersebut terasa hening setelah bapak andi mengutarakan apa tujuannya kesini, ia menyampaikan dengan bijak “Sebelumnya saya minta maaf, saya istri saya dan andi datang kesini ada maksud tertentu yaitu ingin meminang syifha untuk anak saya andi”.  Saat itu juga suasana hati syifha jadi tak karuan ia kaget bercampur bahagia, dan ia bingung tak bisa ngomong apa apa.
“Maaf pak untuk itu semua kami serahkan pada syifha yang akan menjalaninya” sahut bu asih. Lama namun di sertai dengan tawa canda suasa di ruangan itu bisa sedikit santai walau yang di bicirakannya itu serius. Bu asih juga menegaskan “Kami akan mengabari kabar gembira ini kepada bapak dan ibu syifha yang sekarang ada di kota Tulungagung, mudahan dalam waktu singkat ini bisa datang ke panti untuk membicarakan segala halnya tunangan ataupun pernikahan andi dan syifha”.
Waktupun berlalu singkat dan keluarga andi serta syifha tlah berkumpul di panti setelah bapak dan ibu syifha datang. Mereka menyetujui acara tunangan dan pernikahan antara kedua anaknya, begitu juga dengan andi dan syifha yang terlihat senang dan bahagia mendengar pernyataan dari orang tua mereka tersebut.

Hari semakin berlalu, syifha tetap berada di panti dengan mempersiapkan dirinya untuk pernikahannya besok yang sudah di tentukan oleh kedua orang tua andi dan syifha. Sedangkan andi kembali ke kota untuk melanjutkan kuliahnya yang tinggal beberapa bulan saja. Tepatnya pada hari minggu 20 Mei 2001 acara pernikahan tersebut di langsungkan di panti walau hanya keserhanaa yang ada dalam acara tersebut, namun teman teman andi dan keluarga dekat serta sahabat dan kerabat orang tua syifha juga di undang untuk memberikan do’a restu nantinya.

Sungguh tidak terasa malam ini adalah malam terakhir bagi andi dan syifha tidur sendirian di ranjang, karena besok pagi pukul 10.00 mereka akan melangsungkan akad nikah skaligus resepsi. Waktu terasa cepat pagi hari matahari dari timur tlah menyinari halaman panti, sepertinya cuaca bersahabat dengan acara yang akan di gelar di panti ini. Terlihat dari ruang rias syifha nampak anggun cantik di sertai dengan senyuman kas nya yang membuat hati orang lain kesemsem. Begitu juga dengan andi yang terlihat gagah ganteng dengan pakaian adat pernikahan jawa.
Penghulu sudah siap untuk menikahkan andi dengan syifha, dan acara berlangsung dengan hikmat walau ada sentilan sentilan kecil saat andi salah mengucapkan kalimat akad nikah, keluarga maupun para pengunjung pada tertawa sekilas karena terlihat lucu di sertai andi yang malu malu.
*****

Waktu tlah berlalu setahun, dua tahun, bahkan sampai dengan saat ini di tahun 2012 mereka tetap masih langgeng, usia pernikahan yang sudah 11 tahun membuat mereka semakin yakin bahwa mereka sudah di takdirkan oleh sang pencipta untuk slalu bersama. Kini mereka tinggal di kota Kediri dimana andi di lahirkan dan di besarkan, ia di beri karunia oleh Allah Ta’alla 2 anak perempuan kembar yang di beri nama Naila dan Naiya yang berumur 10 tahun dan satu anak laki laki yang masih berumur 2 tahun bernama Tsabit. Mereka berlima merasakan kebahagiaan yang luar biasa, walau Naila dan Naiya menyadari bahwa ibunya tidak bisa berjalan mereka tetap bersyukur karena mempunyai seorang ibu yang baik dan menyayangi mereka, serta mampu membimbing anak anaknya untuk terus belajar ilmu agama.
Akhirnya semua itu sudah di dapatkan oleh syifha, walau ia cacat ia slalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik, karena ia yakin bahwa ia punya impian dan tujuan jadi ia berfikir harus bisa mewujudkan impian itu. Karena ia yakin pada sang pencipta Allah Ta’alla semua apa yang ada dan ia lakukan dengan keadaan begini adalah suratan dan ia hanya bisa slalu berusaha dan memohon pada Allah Ta’alla. Sampai saat ini pun ia tak perlah lupa untuk slalu ucap syukur dhuha maupun tahajud pada Tuhannya. Ia selalu yakin bahwa yang baik akan membawa kebaikan.
Sedangkan di panti asuhan “Griya Mandiri” masih terlihat pak darman dan bu asih yang sabar dan setia pada panti ini, mereka bertahan di panti karena banyak pengalaman dan pelajaran hidup di usia lanjutnya. Mereka juga akan menceritakan kisah serta pengalaman yang indah dan mengagumkan di panti tersebut pada cucu cucunya. Syifha dan Andi setiap seminggu sekali datang ke panti untuk melihat keadaan panti serta membawakan oleh oleh untuk anak anak panti yang kini semakin banyak penyandang cacat. Namun syifha tetap berterimaksih pada panti yang tlah membesarkannya itu dan mendapatkan cintanya tersebut.
Semoga orang orang di luar sana yang mengalami cacat sejak lahir maupun karena kecelakaan, janganlah berputus asa. Ingat bahwa kalian masih punya Allah yang bisa memberikan yang terbaik untuk hambanya, tak ada yang mustahil bila Allah berkehendak dan tak ada yang sempurna, kita manusia biasa hanya bisa berharap, memohon, bersabar, dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Semangat dari syifha yang di tujukan bagi para penyandang cacat dimanapun berada, semoga dengan kita bersemangat bisa lebih mudah untuk menjalani kehidupan.
***
12 January 2012
Tertulis dari Eko Santoso dengan nama pena Esant Tsabit Asyifa
Sangatta kutai timur, Kalimantan timur.
Dengan alamat email. eko444@ymail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Full Music Malaysia


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com