“Anak anak tinggal tiga hari lagi kita
memasuki tahun baru 2001, semoga di awal tahun baru ini kita semua bisa
mendapatkan pengalaman dan kehidupan yang baru. Mari selesai shalat Magrib
berjamaah nanti kita berdo’a semoga di awal tahun depan nanti dapat menjadi lebih
baik dari tahun ini.” Dengan suara
pelan namun jelas dan terdengar oleh seluruh anak anak ucapan dari Bu Asih
sapaan akrabnya, yang merupakan salah satu pengasuh dari panti asuhan Griya
Mandiri. “Amiin Ya Robbal Alamiin”
jawab serentak para anak anak panti, yang waktu itu sedang berolahraga di
halaman panti, memang setiap hari jum’at paginya ada kegiatan khusus
berolahraga di panti asuhan tersebut. Hari ini adalah hari Jum’at tanggal 29
desember 2000 sedangkan tahun baru nanti jatuh pada hari senin, seperti tahun
tahun sebelumnya panti asuhan Griya Mandiri selalu mengadakan pesta kembang api
walau tak semarak di kota, pesta kembang api ini untuk menghibur anak anak
panti yang memang jauh dari orang tuanya maupun mereka yang sudah yatim sejak
kecil. Panti asuhan Griya Mandiri adalah panti penyandang anak anak cacat, ada
dari mereka yang tak punya sebelah tangan, tak bisa melihat karena buta dari
lahir, ada yang bisu dan tuli, bahkan ada seorang perempuan cantik yang lumpuh,
setiap harinya ada di atas kursi roda dan mengandalkan teman, pengasuh, maupun
kedua tangannya untuk menggerakkan kursi rodanya.
Pagi itu sekitar pukul 09.00 waktu indonesia bagian barat memang
terlihat matahari mulai menyongsong, namun tak menyurutkan niat anak anak panti
untuk tetap berolahraga dan mendapatkan vitamin D dari sinar matahari, tak
ketinggalan gadis lumpuh yang diatas kursi rodapun ikutan berolahraga dan
mencari asupan vitamin D dari sinar matahari, walau terlihat di barisan paling
belakang ternyata ia tetap bersemangat serta menggerakan kedua tangannya untuk
meregangkan otot ototnya.
Gadis cantik itu adalah Syifha Nur Humaira yang akrab di panggil
dengan nama Syifha salah seorang anak dari keluarga yang mampu, namun dengan
pekerjaan kedua orang tuanya yang sibuk maka syifha di titipkan di panti asuhan
tersebut sejak usia 6 tahun. Dan saat ini usianya 19 tahun namun di bulan april
nanti tepatnya, walau demikian ia tak pernah membenci kedua orang tuanya,
karena ia sadari mereka mencari nafkah juga untuk dirinya dan membantu anak
anak lain yang ada di panti itu, syifha dengan rendah hati menerima keadaan
semuanya walau ia sadari dirinya tak sempurna. Ia tetap ceria dan bersenda
gurau pada teman temannya, tak terlihat sedikitpun rasa putus asa dan mengeluh
di wajahnya, ceria dan senyum manisnya selalu melekat pada dirinya.
“Syifha, mau
ibu antar ke belakang atau langsung masuk dalam panti” tanya bu Asih dengan lembut. Oh Ibu, hihihiiii maaf tadi melamun jadinya
kaget bu asih nanya langsung ke syifha. Tidak usah bu’ biyar nanti syifha masuk
sendiri saja, syifha masih ingin di luar dulu” Jawab syifha pada bu Asih. “Ya udah tapi jangan lama lama di luar yaa,
sebentar lagi waktunya makan pagi.” Sahut
bu Asih. “Iyaa bu” balas syifha. Kini syifha sendirian ada di
teras panti sedangkan anak anak panti yang lain sudah masuk ke dalam ada yang
membantu menyiapkan makan dan beberapa anak membersihkan ruang tamu.
Terlihat dari kejahuan pak Darman memandangi syifha, dan
menghampirinya dengan menyapa lirih “wonten
nopo nduk, kok melamun wae bapak perhatikan.”
Pak Darman adalah penjaga panti asuhan usianya sekarang sudah 53
tahun, sesekali waktu siang beliau menyambangi panti untuk melihat keadaan atau
bahkan ada yang membutuhkan bantuannya. Pak Darman bekerja malam hari mulai
pukul 7 malam sampai 6 pagi, jadi kesempatan syifha untuk mengobrol lama dengan
pak darman biasanya malam hari di teras panti. Selain pada bu Asih yang di
anggapnya sebagi ibunya sendiri, syifha juga terlihat sangat akrab dengan pak
darman jadi sering kali ia menceritakan kesehariannya bahkan keinginannya untuk
menikah seperti orang orang normal lainnya. “Eh
Bapak, lagi ingin santai sebentar, Bapak ada perlu jam segini kok ada di
panti”. Jawab Syifha dengan memandang wajah pak darman. “Ora nduk, Cuma liat keadaan panti saja”
sahut pak darman sambil menarik kursi teras untuk duduk dan mengobrol sama
syifha.
Syifha anaknya memang sopan dan cara bahasa bicaranya pun sangat
santun. Wajar selama ini ia benar benar di didik oleh pengasuh dari panti Griya
Mandiri terutama bu Asih yang setiap hari mengajarinya untuk slalu menghormati
orang lain, dan sopan pada siapapun agar orang lain juga sopan terhadap kita.
Walau terasa kurang kasih sayang dari orang tuanya syifha tak pernah
membahasnya karena ia memiliki keluarga dan saudara saudara yang slalu
memberinya semangat untuk slalu berusaha. Sedangkan bu Asih dan pak Darman ia
anggap seperti orang tuanya sendiri, yang setiap saat setiap ucapan pasti ada
wejangannya hingga akhirnya membuat hatinya syifha tenang dan damai.
Walau terlahir tak sempurna hanya dengan kedua tangannya ia
beraktifitas namun ia masih punya semangat dan kemauan. Sampai kini dokter
hanya memvonis bila syifha terkena kelumpuhan sejak lahir kedua kakinya lumpuh
tidak bisa di gerakkan namun masih bisa merasakan sakit, dan ia menolak untuk
di amputasi. Ternyata di usia yang mau menginjak ke 19 tahun ia mempunyai
keinginan untuk menikah, keinginan itu ia sampaikan pada bu Asih dan pak Darman
yang benar benar ia percaya bisa untuk memberinya semangat. Tak di sangkal ternyata
bu Asih dan pak Darman sangat senang mendengar kemauan syifha tersebut untuk
menikah, orang tua angkatnya itu slalu memberikan arahan dan wejangan untuk
menjadi yang lebih baik. Dan slalu untuk meminta memohon pada Rabb sepanjang waktu di setiap sujudnya, walau tak
dipungkiri bila syifha anaknya taat beribadah dan mengaji setiap ba’da magrib
dan subuh. Dengan begitu orang tua angkatnya memberikan pernyataan bahwa suatu
nanti kamu pasti bisa menikah dan kamu pasti bisa mendapatkan jodoh yang baik, yang
bisa membimbingmu dan menjadi imammu nanti. Syifha hanya tersenyum dan memeluk
tubuh bu Asih dengan erat, ia semakin mantap dan percaya untuk menikah serta
mendapatkan suami seperti pintanya.
*******
Waktu semakin berlalu, hari ini
sabtu siang pukul 13.00 seperti biasa kegiatan di panti setelah shalat zduhur
berjamaah di antara mereka ada yang mengaji bahkan ada yang tiduran di mushola,
karena siang ini tak seperti biasanya hawanya terasa panas dan mengantuk
sedangkan di musholla ada kipas angin jadi lebih bisa beristirahat dan tiduran.
Terlihat di shaf barisan belakang jamaah perempuan syifha bersandar di dinding
mushola sambil membaca al qu’an, selain pandai mengaji ia juga diminta oleh
teman temannya untuk mengajari bahasa arab yang pernah pelajari saat khursus di
sela sela ia sekolah. Terlihat jam dinding musholla sudah menunjukkan pukul
16.05 sore, suara adzan ashar terdengar merdu yang di kumandangkan oleh Yanto
salah satu anak yatim yang mengalami kebutaan sejak umur 6 tahun. Kini usianya
sudah 21 tahun namun ia tetap berusaha untuk menjadi dirinya sendiri menopang
hidupnya untuk bisa mandiri tanpa belas kasih orang lain. Ia juga punya impian
menjadi ustad walau matanya buta ia sudah mengkhatamkan al qur’an beberapa
kali, ia belajar membaca dengan menggunakan al qur’an tulisan arabnya timbul,
sesaat juga mendengarkan lantunan surat surat dari tipe yang ia putar.
“Anak anak sore ini kita akan kedatangan tamu dari
kota, ibu harap semuanya sopan dan menghormati tamu nantinya.” Ucap bu Asih mengawali pembicaraan di ruang
tengah saat berkumpul bersama sama untuk menyambut kedatangan tamu tersebut. “Siapa bu tamunya laki atau perempuan
darimana dan mengapa kesini” celetuk anton yang masih berusia 10 tahun. “Tamunya adalah Mas Andi dan Mas Toni dari
kota, mereka datang ke panti ini untuk menyelesaikan tugasnya membuat skripsi,
jadi mereka tinggal di panti samapi tanggal 2 january 2001, dan ibu meminta
pada semuanya agar sopan dan menghormati mas andi dan mas toni yaa.” “Iyaa bu
Asih” jawab serentak anak anak di ruangan tersebut.
Menunggu dan menunggu jam dinding ruang tengah telah menunjukkan pukul
21.00 malam dan tamu yang di tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya. “Karena sudah malam adik adik pada tidur aja
yaa, biyar kakak syifha dan pa darman saja yang menunggu mas andi dan mas toni,
besok kalian kan harus bangun pagi untuk shalat subuh berjamaah.” Kata syifha pada anak anak panti yang sudah
waktunya tidur. “Iyaa deh ka’, shiella
juga sudah ngantuk, besok kenalin sama shiella ya ka”. Ucap shiella dengan
mata yang sudah ngantuk. Biasanya jam 21.00 anak anak sudah pada tidur, dan
malam ini harus menunggu tamu nyatanya belum terlihat juga.
Dari arah jalanan terlihat dua pemuda turun dari ojek dan terlihat di
jam tangan pak darman sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. “Assalamu’alaikum” sallam
andi dan toni pada pak darman dan syifha yang memang sengaja menunggu mereka di
teras panti. “Walaikum sallam waroh
matullahi wabarokatuh” Jawab syifha
dan pak darman. “Dek Andi kok malam betul
sampainya, apa ada halangan di jalan” Tanya pak darman. “Oh iyaa maaf pak sebelumnya jadi ngrepotin sampai malam menunggunya,
iya pak tadi di jalan ada orang kecelakaan jadi bus yang kami tumpangi harus
berhenti dulu karena dijalanan pada ramai warga yang menolong dan menonton” Sahut Andi sambil menatap wajah perempuan
yang duduk di kursi roda tepat di hadapannya, dalam batinnya sungguh cantik dan
menawan hati, siapalah gerangan gadis berjilbab putih yang duduk di kursi roda
ini. “Ayoo mas andi dan mas toni silahkan
masuk ke dalam, sudah malam nanti kedinginan di luar, mari saya antar ke dalam
dan saya tunjukan kamar mas andi dan mas toni nanti” celetus syifha dengan
senyuman kas nya yang memang membuat lelaki kesemsem. “Yaa sudah malam silahkan masuk mas bapak tak jaga di luar saja, kalau
ada perlu bisa panggil saya” sahut pak darman melanjutkan pembicaraan dari
syifha.
Mereka bertiga masuk dalam ruang tamu panti, dan andi masih menatap
dengan penasaran siapa gerangan gadis ini selain cantik ia sopan baik dan membuat
hatiku berdetak terus. Maklum malam itu semua penghuni panti sudah pada tidur
kecuali syifha yang memang sudah berjanji untuk menyambut kedatangan mas andi
dan toni. Setelah di persilahkan duduk di kursi ruang tamu syifha beranjak ke
dapur “sebentar yaa mas, saya buatkan
minum dulu” ucap syifha sambil
berlalu menuju dapur. “Oh iyaa, makasih
banyak mbak, maaf yaa merepotkan” balas toni. Tak terasa jam dinding ruang tamu
sudah menunjukkan jarumnya tepat 22.30 malam, dengan di temani syifha mereka
berdua terlihat capek duduk bersandar di kursi, setelah minuman mereka habis
syifha mempersilahkan untuk istirahat di kamar, “mari mas saya antar ke kamar, pasti sudah terasa capek perjalanan jauh
dari kota ke sini, mudahan di kamar ini mas andi dan mas toni bisa beristirahat
dengan nyaman” sambil menunjukkan kamar yang tak terlihat besar namun rapi
dan cukup untuk untuk ukuran tidur berdua. “Makasih
banyak mbak... mbak.... siapa yaa namanya maaf belum sempat kenalan tadi, sudah
mengobrol tapi belum tau namanya”, heheheeee
dengan seyum kecil andi mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan syifha. “maaf mas yaa saya juga lupa tidak
memperkenalkan diri, saya syifha jadi kalau ada perlu sesuatu bisa mencari
saya” sahut syifha sambil menerima uluran tangan andi yang ingin berjabat
dengannya, begitu juga toni menyalami syifha. “Ya sudah berhubung sudah malam selamat malam dan selamat tidur ya mas –
mas, oh yaa ada satu lagi setiap shalat wajib kami melakukannya secara
berjamaah, jadi bila mas andi dan mas toni besok pagi tidak capek mari
berjamaah dengan kami di musholla samping panti” ucapan selamat malam untuk kedua tamunya serta
menambahkan untuk shalat berjamaah syifha sambil berpamit untuk kembali ke
kamarnya dan tidur. Sebelum meninggalkan kamar, “terimakasih banyak yaa mbak syifha sudah banyak membantu kami,
inyaallah bila besok pagi kami bangun lebih awal kami ikut berjamaah shalat
subuh di musholla” sahut toni setelah syifha meninggalkan kamar toni ia pun
menutup kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa banyak
capak mereka berdua langsung tidur.
Hari ini minggu pagi 31 desember 2000, setelah melakukan shalat subuh
berjamaah anak anak panti pada belajar mengaji begitu juga dengan syifha seperti
biasa ia bersandar di dinding sambil membaca al qur’an. Terlihat di barisan
paling depan sebelah kanan ada andi dan toni yang baru selesai shalat subuh
berjamaah mereka mencoba mengikuti kegiatan dan keseharian anak anak panti yang
setiap pagi setelah berjamaah subuh untuk mengaji. Walau andi dari kota dan
terlahir dari orang tua pengusaha ia selalu menjalankan kewajibannya sebagai
muslim karena dari kecil ia sudah di didik dengan ilmu agama oleh orang tuanya.
Tidak seperti kebanyakan pemuda kota sekarang yang menghabiskan hari harinya
untuk berpesta, bermain dan semaunya sendiri, jauh berbeda dengan andi anak
dari Hardjayanto pengusaha meubel asal kota Kediri Jawa Timur.
******
Minggu pagi yang cerah dengan cahaya sinar matahari yang mulai
menampakkan wujudnya dari timur, walau sedikit terasa dingin dengan embun pagi
yang belum hilang oleh sinar matahari, seluruh anak panti bersama dengan toni
dan andi berada di halaman panti yang memang cukup luas untuk melakukan
berbagai kegiatan. Terlihat andi memandangi syifha dari kejahuan yang sedang
duduk di atas kursi rodanya dekat pekarangan bunga yang di tanam oleh anak anak
panti. Sesekali syifha melempar senyum manisnya pada andi sebagai isyarat bahwa
ia menyukai bila andi slalu memandanginya dan memperhatikannya. Sejurus
kemudian andi menghampiri syifha “boleh
yaa saya disini untuk menemani mbak syifha dan sekedar mengobrol ngobrol saja”
kalimat pertama yang andi keluarkan setelah berada di samping kiri syifha. “Silahkan mas, saya malah senang bila mas andi
mau nemanin syifha, tapi jangan panggil mbak nggak enak langsung syifha saja
mas, mas andi ke panti ini dalam kegiatan mas, karena syifha selama disini
jarang melihat tamu seperti mas andi yang sampai beberapa hari menginap di
panti” balas dan tanya syifha pada
andi. “Saya dan toni dapat tugas akhir
dari kampus untuk membuat skripsi dan themanya adalah penyandang cacat yang
berusaha untuk mendapatkan haknya, tapi sebelumnya maaf yaa bukanniat saya
untuk menyinggung syifha”. Sambil
menunduk andi tersipu malu dan enggan untuk mengatakannya ia takut bila
ucapannya menyinggung syifha namun sudah ia katakan tepat di hadapan syifha. “Enggak papa mas, mas andi nggak usah
sungkan karena memang itu keadaan dan kenyataannya, jadi kapan mas andi mulai
untuk membuat skripsinya” Tanya
balik syifha pada andi. “Tidak buru buru
kok yang penting saya sudah tau tempat dan lalar panti ini, jadi sewaktu waktu
bisa saja saya membuatnya atau bahkan bila sudah di kota, saya bisa saja
kembali kesini untuk cari tau keadaan yang baru” jawab andi sambil tersenyum.
Dalam percakapan tersebut terlihat andi dan syifha cocok dan tidak ada
salah paham maupun pengertian, mereka berdua terlihat saling klop dan menutupi
kekurangan satu sama yang lain. Saat itu juga andi mulai menaruh benih benih
cinta yang terpendam dalam hatinya, namun ia belum berani mengatakan suka
maupun sayang pada syifha karena pertemuan mereka baru saja sehari. “Syifha, sebenarnya kamu itu cantik, baik,
pandai mengaji, kamu itu sopan, seumpama kamu bisa menjadi istriku walau kamu
tak sempurna aku pasti berusaha untuk menyayangimu dan mencintaimu memberikan
yang terbaik untukmu, karena aku jugalah manusia biasa” gerutu andi dalam
hati. Setelah mengobrol bersama andi syifha merasa senang dan bahagia terasa
ada yang mempedulikan dan memperhatikannya. Waktu berlalu ternyata matahari
sudah mulai meninggi dan mereka kembali masuk ke dalam panti, terlihat anak
anak panti menyiapkan kembang api dan jajanan kue untuk acara menyambut tahun
baru malam nanti.
Jam dinding ruang tamu tlah menunjukkan pukul 19.24 malam, waktunya
shalat isyak berjamaah, anak anak panti sudah memadati musholla di waktu andi
dan toni masuk dalam musholla, terlihat sekilas andi menengok ke belakang di
shaf jamaah perempuan memastikan bahwa syifha juga ada diantara mereka. Namun
itu tak membuahkan hasil karena musholla di skat dengan kain putih untuk
memisahkan antara barisan laki laki dan perempuan. Iqomat tlah di tegakkan
semua jamaah yang ada dalam musholla itu pun bnerdiri dan mulai untuk
melaksanakan shalat isyak. Dentang waktu terasa cepat jam musholla sudah
menunjukkan 20.00 malam, setelah mengaji beberapa ayat smua anak anak dan
pengasuh panti Griya Mandiri berganti pakain dan segera menuju halaman panti.
Terlihat beberapa anak sudah menyalakan kembang api serta petasan. Hiruk pikuk
halaman panti mulai terasa ramai sesaat kembang api petasan yang meloncar di
langit berwarna warni, pak darman, bu asih dan warga skitar panti pun ikut
berbondong bondong memasuki halaman panti sekedar menikmati perayaan awal malam
tahun baru. Walau masih jam 20.15 malam panti itu sudah ramai, mulai dari anak
anak warga skitar pantai sampai nenek nenek yang menemani cucunya terlihat
senang dan bahagia. Sesekali mereka mengambil makanan kecil yang disiapkan di
atas meja di teras panti, memang sengaja di sediakan untuk malam acara
pergantian tahun, seperti tahun tahun sebelumnya yang memang ramai dengan
kehadiran warga skitar panti.
Andi bersama toni hanya menemani anak anak panti itu menyalakan
kembang api, mereka kadang melihat dari belakang untuk memastikan anak anak
tidak terlalau dekat dengan mainannya. Di balik jendela kamar andi menatap
tajam gadis cantik itu, ia penasaran mengapa syifha tidak ikutan gabung untuk
meramaikan malam pergantian tahun ini. Andi melambaikan tangannya pada syifha
dan syifha pun membalasnya dengan melambaikan tangan di sertai senyuman kecil.
Tak perlu lama andi untuk mendekati syifha dari luar jendela dan berkata “mengapa kok nggak ikutan ke luar bermain
bersama kami, di luar indah banget banyak anak anak penuh keramaian dan petasan
kembang api yang menloncar indah di langit, bagaimana bilsa saya temanain untuk
ke halaman” minta andi dengan
memelas agar syifha mau melihat indahnya pergantian tahun di halaman panti. “iyaa dech mas, tapi mas andi jangan jauh
jauh ya dari syifha, karena syifha takut, syifha trauma waktu dahulu kena
petasan yang ter lempar ke badan syifha, dan itu tidak di sengaja, oleh aswar
salah seorang anak panti juga” balas
syifha dengan senyum yang merekah dan pipinya yang memerah. “iyaa mas andi janji tidak akan meninggalkan
syifha” jawaban pasti yang membuat
hati syifha trenyuh dan bahagia lantas ia hanya tersenyum pada andi
mengisyaratkan bahwa ia setuju untuk keluar ke halaman panti untuk melihat
indahnya malam tahun baru.
Di malam itu terlihat syifha dan andi seperti seorang kekasih walau
hanya sekedar mengobrol dan menemani di penghujung tahun. Semua itu terasa juga
oleh bu asih dan pak darman yang melihat kedekatan dan keakraban mereka,
Sebelumnya andi sudah di kenal oleh pak darman dan bu asih ia adalah salah satu
anak dari pengusaha yang merupakan donatur panti ini. Andi anak yang
berpendidikan dan berakhlak baik, jadi bu asih dan pak darman tak pernah
berfikiran yang enggak enggak pada andi saat bersama syifha. Malam berlalu
banyak warga sekitar yang sudah kembali kerumahya masing masing begitu juga
dengan keadaan di panti ynag mulai sepi, terlihat pak darman, bu asih, dan para
pengasuh panti membereskan meja maupun sisa makanan yang berserakan di lantai.
Malam semakin dingin andi memegang tangan syifha, syifha merasa kaget karena
tak seperti biasanya ia merasakan hangat di tubuhnya dan tenang di hatinya,
andi berkata “syifha, besok pagi saya
harus kembali ke kota dengan toni, saya mohon waktu yang singkat ini bisa
memperkenalkan kita lebih dalam lagi, saat pertama aku melihatmu, aku merasa
bahagia dan suka pada pandangan pertama, semoga saja perasaan ini tak salah
begitu juga denganmu, semoga engkau juga merasakan perasaanku ini” Syifha hanya terdiam membisu, karena ia
tak tahu harus berbuat dan berkata apa. “Saya
janji saya pasti akan kembali kesini lain waktu untuk menemuimu, karena saya
berharap engkau bisa menjadi istriku kelak nanti” ucapan andi melanjutkan kata katanya tadi.
Lantas ia pun meneruskan kalimatnya “sudah
malam, mari saya antar ke kamar, semoga malam ini kamu bisa mimpi indah dan
tidur lelap, pagi pagi saya akan berangkat ke kota, saya titip secarik kertas
ini sebagai pengganti perasaan saya padamu karena waktu sudah larut malam”
sambil menganbil secarik kertas dari kantongnya dan memberikannya pada syifha.
Syifha menerima secarik kertas itu tapi ia tetap tak bisa berbicara apa apa, ia
kaget dan terasa bagai mimpi. Lalu andi meninggalkan syifha di kamarnya dan
secarik kertas yang sudah di terima syifha.
Malam semakin larut jam kecil yang terletak diatas meja syifha
menunjukkan pukul 01.45 pagi, namun syifha tak lantas tidur, ia membuka secarik
kertas itu dengan penasaran apa isinya, ia mulai membuka perlahan dan melihat
tulisan tangan yang rapi seperti tulisan tangan seorang perempuan.
Saat aku
dekat denganmu hatiku terasa damai
Saat aku
menyapamu engkau membalasnya dengan lembut
Tau kah
engkau bila aku mengharapmu
Tau kah
engkau bila aku slalu memujamu
Aku
menyanyangimu dan aku menginginkanmu
Namun waktu
akankah bisa menyatukan kita
Atau kah
waktu ini hanya sebagai kenangan semata
Lewat
hembusan angin malam
Engkau tak
pedulikan itu
Lalui malam
yang penuh rasa kantuk
Engkau temani
diriku penuh sabar
Karena itu
aku ingin slalu bersamamu
Bersama
tulisan secarik kertas ini
Aku sapa
dirimu dan ingin aku meminangmu
Aku kangen
dirimu
Aku kangen
kata lembutmu
Aku kangen
akan segalanya padamu
Bila nanti
aku tlah tak ada disini
Berikan aku
sedikit waktu untuk berusaha meminangmu
Dari andi
seorang pemuda yang mengagumimu
*****
Sehari dua hari,
seminggu dua minggu, bahkan sampai sebulan lebih tak ada kabar sama sekali dari
andi, sedangkan besok adalah hari ulang tahun syifha yang ke 19 tahun tepatnya
14 april. Syifha yang sudah terlanjur berharap mendapatkan cinta sejati sekaligus
menjadi suaminya ternyata sirna, itu semua hanyalah hayalan semata. “Apa yang sedang aku harapkan, mungkin aku
terlalu berlebihan untuk mencintai seseorang, mungkin Allah belum mengijinkan
aku untuk mendaparkan sosok lelaki yang memang bisa untuk menjadi imamku”
jerit bathin syifha.
Disisi lain andi
yang memang benar benar mengharapkan cinta syifha dan ingin menjadikan suaminya
sedang berusaha keras untuk meyakinkan kedua orang tuanya, mereka tak menyangka
bila anak yang di didiknya sampai kini tlah tumbuh dewasa dan sebentar lagi
lulus sarjana harus menikah dengan seorang gadis lumpuh. Gadis yang tidak bisa
memberikan hal positif dalam keluarganya nanti. Jadi orang tua andi menyuruh
andi untuk berfikir lebih baik kedepannya, bagaimana nanti bila andi punya anak
dari gadis klumpuh itu, siapakah yang nantinya merawat anaknya. Suasana di
ruangan depan tivi itu terlihat hening setelah orang tuanya melarang untuk
menikahi gadis lumpuh. Andi hanya bisa meneteskan air mata dan berharap bila
orang tuanya merestuinya, walau orangtuanya tak menyetujui bila andi menikahi
gadis lumpuh itu, ia tetap berbakti pada orangtuanya, tak terlihat sedikitpun
kata kata yang menyinggung atau bahkan membuat orang tuanya marah. Ketika malam
menunjukkan pukul 21.19 di depan ruangan tivi yang terlihat lumayan mewah
tersebut. Keluarkah kata kata “Jadi begini
andi, bapak dan ibu sebenarnya tidak melarang kamu menikah dengan siapapun, itu
semua adalah kemauanmu dan nantinya kamu juga yang menjalaninya, ayah dan ibu
hanya ingin kamu bisa berfikir dan bertanggung jawab dengan keputusanmu
nantinya. Bapak dan ibu tidak ingin kamu hanya mempermainkan gadis itu, mereka
itu sama seperti kita, mereka juga perlu kasih sayang, dan mereka juga
mempunyai rasa cinta yang thulus, walaupun keadaan mereka tak sempurna. Jadi
bapak ibu serahkan keputusan itu padamu sepenuhnya” jawaban yang keluar dari orang tua andi yang
memang sungguh tidak di sadarinya, ternyata orangtuanya sangat bijaksana menyayangi
andi dan memberikan masa depan sepeuhnya pada dirinya sendiri. Andi merasa
tenang dan senang. “Makasih banyak Pak Bu
andi sudah di berikan kepercayaan untuk masa depan andi” sambil meneteskan
air mata ia bersipangkuh di pangkuan bapak dan ibunya dengan mata berbinar
binar orang tuanya juga senang dengan keadaan andi sekarang ini. Malam itu juga
andi meminta pada bapak dan ibunya untuk menemaninya besok sore datang ke
panti, ia ingin bapak dan ibunya melamarkan syifha untuknya. Orang tuanyapun
menyetujuinya.
Keesokan harinya
di panti terlihat seperti biasanya, walau hari ini ada yang ulang tahun tak ada
yang istimewa dari panti ini maupun pengasuhnya. Semua berjalan seperti biasa, dan
terlihat syifha yang duduk di kursi teras dengan raut muka yang ceria. “Selamat ulang tahun yaa nak, moga impiannya
bisa cepat terkabul” Ucap bu Asih. “Amiin, maksih bu” sahut syifha. Begitu
juga dengan pak darman “Iyoo nduk, moga
cepat dapat jodoh dan nikah, siapa tau Allah memberikan jodoh dan cintamu di
usiamu yang ke 19 tahun ini”. “Amiin, inggih makasih banyak pak
darman” sahut syifha dengan muka
berseri seri ternyata harapan itu memang ada, orang orang terdekat banyak yang
memberiku semangat, mudahan saja itu semua cepat terwujud, “amiin” ucap dalam hati syifha.
Siang tlah
berlalu jam dinding di teras menunjukkan pukul 16.35 sore, terlihat sebuah
mobil berwarna hitam pekat memasuki halaman panti. Pak darman yang sore itu
sudah berada di panti langsung menyambut siapa gerangan yang ada dalam mobil
tersebut.
“Assalamu’alaikum” sallam
andi sembari membuka pintu mobil tengah di ikutin dengan bapak dan ibunya yang
duduk di depan. “Walaikum sallam” Mari
mas andi, pak, bu, monggo silahkan masuk kedalam” Jawab sallam pak darman sembari
mempersilahkan masuk ke dalam panti. Di dalam panti ternyata sedang berkumpul
syifha, bu asih dan para pengasuh panti. Tak lama di dalam ruangan tersebut
terasa hening setelah bapak andi mengutarakan apa tujuannya kesini, ia
menyampaikan dengan bijak “Sebelumnya
saya minta maaf, saya istri saya dan andi datang kesini ada maksud tertentu
yaitu ingin meminang syifha untuk anak saya andi”. Saat itu juga suasana hati syifha jadi
tak karuan ia kaget bercampur bahagia, dan ia bingung tak bisa ngomong apa apa.
“Maaf pak untuk itu semua kami serahkan
pada syifha yang akan menjalaninya” sahut
bu asih. Lama namun di sertai dengan tawa canda suasa di ruangan itu bisa
sedikit santai walau yang di bicirakannya itu serius. Bu asih juga menegaskan “Kami akan mengabari kabar gembira ini
kepada bapak dan ibu syifha yang sekarang ada di kota Tulungagung, mudahan
dalam waktu singkat ini bisa datang ke panti untuk membicarakan segala halnya
tunangan ataupun pernikahan andi dan syifha”.
Waktupun berlalu
singkat dan keluarga andi serta syifha tlah berkumpul di panti setelah bapak
dan ibu syifha datang. Mereka menyetujui acara tunangan dan pernikahan antara
kedua anaknya, begitu juga dengan andi dan syifha yang terlihat senang dan
bahagia mendengar pernyataan dari orang tua mereka tersebut.
Hari semakin
berlalu, syifha tetap berada di panti dengan mempersiapkan dirinya untuk
pernikahannya besok yang sudah di tentukan oleh kedua orang tua andi dan
syifha. Sedangkan andi kembali ke kota untuk melanjutkan kuliahnya yang tinggal
beberapa bulan saja. Tepatnya pada hari minggu 20 Mei 2001 acara pernikahan
tersebut di langsungkan di panti walau hanya keserhanaa yang ada dalam acara
tersebut, namun teman teman andi dan keluarga dekat serta sahabat dan kerabat
orang tua syifha juga di undang untuk memberikan do’a restu nantinya.
Sungguh tidak
terasa malam ini adalah malam terakhir bagi andi dan syifha tidur sendirian di
ranjang, karena besok pagi pukul 10.00 mereka akan melangsungkan akad nikah
skaligus resepsi. Waktu terasa cepat pagi hari matahari dari timur tlah
menyinari halaman panti, sepertinya cuaca bersahabat dengan acara yang akan di
gelar di panti ini. Terlihat dari ruang rias syifha nampak anggun cantik di
sertai dengan senyuman kas nya yang membuat hati orang lain kesemsem. Begitu
juga dengan andi yang terlihat gagah ganteng dengan pakaian adat pernikahan
jawa.
Penghulu sudah
siap untuk menikahkan andi dengan syifha, dan acara berlangsung dengan hikmat
walau ada sentilan sentilan kecil saat andi salah mengucapkan kalimat akad
nikah, keluarga maupun para pengunjung pada tertawa sekilas karena terlihat
lucu di sertai andi yang malu malu.
*****
Waktu tlah
berlalu setahun, dua tahun, bahkan sampai dengan saat ini di tahun 2012 mereka
tetap masih langgeng, usia pernikahan yang sudah 11 tahun membuat mereka
semakin yakin bahwa mereka sudah di takdirkan oleh sang pencipta untuk slalu
bersama. Kini mereka tinggal di kota Kediri dimana andi di lahirkan dan di
besarkan, ia di beri karunia oleh Allah Ta’alla 2 anak perempuan kembar yang di
beri nama Naila dan Naiya yang berumur 10 tahun dan satu anak laki laki yang
masih berumur 2 tahun bernama Tsabit. Mereka berlima merasakan kebahagiaan yang
luar biasa, walau Naila dan Naiya menyadari bahwa ibunya tidak bisa berjalan
mereka tetap bersyukur karena mempunyai seorang ibu yang baik dan menyayangi
mereka, serta mampu membimbing anak anaknya untuk terus belajar ilmu agama.
Akhirnya semua
itu sudah di dapatkan oleh syifha, walau ia cacat ia slalu berusaha untuk
menjadi yang lebih baik, karena ia yakin bahwa ia punya impian dan tujuan jadi
ia berfikir harus bisa mewujudkan impian itu. Karena ia yakin pada sang
pencipta Allah Ta’alla semua apa yang ada dan ia lakukan dengan keadaan begini
adalah suratan dan ia hanya bisa slalu berusaha dan memohon pada Allah Ta’alla.
Sampai saat ini pun ia tak perlah lupa untuk slalu ucap syukur dhuha maupun
tahajud pada Tuhannya. Ia selalu yakin bahwa yang baik akan membawa kebaikan.
Sedangkan di panti
asuhan “Griya Mandiri” masih terlihat pak darman dan bu asih yang sabar dan
setia pada panti ini, mereka bertahan di panti karena banyak pengalaman dan
pelajaran hidup di usia lanjutnya. Mereka juga akan menceritakan kisah serta
pengalaman yang indah dan mengagumkan di panti tersebut pada cucu cucunya.
Syifha dan Andi setiap seminggu sekali datang ke panti untuk melihat keadaan
panti serta membawakan oleh oleh untuk anak anak panti yang kini semakin banyak
penyandang cacat. Namun syifha tetap berterimaksih pada panti yang tlah
membesarkannya itu dan mendapatkan cintanya tersebut.
Semoga orang
orang di luar sana yang mengalami cacat sejak lahir maupun karena kecelakaan,
janganlah berputus asa. Ingat bahwa kalian masih punya Allah yang bisa
memberikan yang terbaik untuk hambanya, tak ada yang mustahil bila Allah
berkehendak dan tak ada yang sempurna, kita manusia biasa hanya bisa berharap,
memohon, bersabar, dan berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Semangat dari
syifha yang di tujukan bagi para penyandang cacat dimanapun berada, semoga
dengan kita bersemangat bisa lebih mudah untuk menjalani kehidupan.
***
12 January 2012
Tertulis dari Eko
Santoso dengan nama pena Esant Tsabit Asyifa
Sangatta kutai
timur, Kalimantan timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar