Senin, 04 Juni 2012

Cintaku Sampai Mati


Di sudut toko perempatan lampu merah kota, berdiri seorang gadis kecil dengan tubuh menggigil dengan memeluk gitar kecilnya. Terdiam memandang ke awan dengan penuh makna, berharap hujan segera terhenti. Namun gerimis tak kunjung reda, gadis kecil itu ternganga sembari melindungi gitarnya dari tempiasan gerimis.

Waktu berlalu, gerimis telah berhenti dan benar benar terhenti, kulihat gadis kecil itu berjalan melintasi trotoar dan terhenti di bawah lampu merah. Mengangkat gitar dan memainkannya, entah apa yang ia ucapkan. Benakku berfikir “mungkin ia gadis pengamen, dengan gitar yang ia bawa seorang diri sembari komat kamit yang tidak aku mengerti apa yang ia ucapkan”, karena jarak rumah dengan gadis kecil itu lumayan skitar 25 meter.
Benar ternyata apa yang kupikirkan, gadis kecil tanpa alas kaki memakai celana pendek warna biru dengan kaos oblong yang lusut itu adalah gadis pengamen, kuamati beberapa pengemudi memberikan ia sejumlah uang receh. Mukanya yang imut dengan rambut lurus terurai panjang tak meyakinkanku bahwa ia adalah benar benar gadis pengamen. Tersentak dengan apa yang kubayangkan “dimanakah orang tuanya, apakah meraka tidak peduli dengan anaknya, mungkinkah orang tuanya yang memintanya untuk mengamen, dimana tanggung jawab sebagai orang tua yang seharusnya mengayomi anak anaknya, sungguhkah sekejam itu orang tuanya”.

Hari hari berlalu dan sudah seminggu, tanpa kusadari gadis kecil itu terus mengamen setiap sorenya. Seorang diri seperti hari kmaren berdiri menunggu lampu menyala merah dan memainkan gitarnya di setiap kendaraan. Aku termenung melihatnya, apakah yang ia lalukan setiap hari. Mungkinkah orang tuanya tak mampu memberikannya uang walau sekedar untuk jajanan.

Sore hari sekitar jam tiga langit mendung, menandakan akan turun hujan di pusat kota. Benar ternyata hujan turun dengan derasnya, gadis kecil itu mencari cari tempat untuk berteduh. Hingga akhirnya ia berteduh di depan toko samping rumah namun masih tempias kena hujan yang di sertai angin. Aku yang tak tega melihatnya sembari memanggil “sini dek, berteduh disini saja karena disitu masih tempias oleh hujan” tanpa panjang kata ia berlari menuju teras rumah dan aku persilahkan duduk di kursi teras sembari menunggu hujan reda. “Makasih ya Om”, jawabnya lugu.

Cepatnya ia akrab dengan orang yang baru ia kenal. Gadis kecil itu adalah Syifa, gadis kecil yang pertama kulihat tanpa alas kaki memakai celana pendek warna biru dengan kaos oblong yang lusut berada di tengah keramaian lampu merah kota. Dengan lembut dan lirih aku bertanya padanya “Dek, mengapa bisa kamu kok mengamen, dimana Ibu dan bapakmu, mengapa tidak memilih bermain dengan teman temanmu saja di rumah”. Pertanyaan yang singkat namun bisa ia pahami, dengan perlahan dan perpotong bahasanya ia menjelaskan tentang kehidupannya beserta adik dan Ibunya. Serta kusuguhkan teh kotak dan kue ringan untuknya, kasihan melihatnya. Siapapun orang yang peduli dengan anak anaknya pasti tidak akan pernah tega melihat gadis kecil ini. Tubuhnya yang kurus, bola matanya yang sayu, dan kulitnya yang hitam mengkilap seperti tak terawat.

Syifa mengatakan padaku bahwa dirinya hidup bertiga dengan Adik dan Ibunya. Sedangkan Bapaknya dua tahun yang lalu meninggalkan mereka sesaat setelah Ibunya mengalami kecelakaan motor dan kaki tangannya diamputasi. Yah, mungkin inilah mengapa Bapak Syifa meninggalkan keluarganya, batinku. Dengan raut muka sedih air mata yang menetes ia terus menceritakan kehidupannya. Setelah di tinggal Bapaknya, Syifa berusaha mencari makan untuk Adik dan Ibunya dengan mengamen, terkadang bila lebih uangnya ia simpan dan untuk keperluan sekolahnya. Syifa gadis kecil yang masih duduk di kelas 5 bangku dasar, namun tanggung jawab dan pengorbanan pada Ibunya sungguh luar biasa. Ia relakan hari hari bermainnya untuk mencari uang, untuk mencari makan Adik dan Ibunya. Ia tinggal di rumah yang berukuran 4X6 meter, rumah yang Ibu Syifa beli dulu sewaktu berjualan sayur di pasar sebelum mengalami kecelakaan. Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk memasak nasi dengan kayu bakar, membersihkan rumah sekaligus memandikan Ibunya walau sekedar mengelap badan Ibunya dengan air. Karena tubuhnya yang masih kecil ia hanya melakukan apa yang ia mampu. Adiknya yang masih berumur 4 tahun terkadang ia titipkan pada tetangga sekitar rumah.

Setiap hari sepulang sekolah ia mengamen diantara pertigaan dan perermpatan lampu merah kota. Sempat aku bertanya padanya “Syifa, sampai kapan kamu mengamen”. Ia dengan cekatan menjawab “Tidak tau Om, sampai nanti saya akan terus berusaha untuk membahagiakan Ibu dan Adik, hanya mereka yang Syifa punya, dan sampai mati Syifa cinta mereka semua”.

Syifa, gadis kecil yang penuh dengan cerita. Setiap sore seringkali aku melihatnya di perempatan bawah lampu merah kota dengan gitar kecilnya. Syifa, gadis kecil yang mempunyai tanggung jawab besar pada keluarganya. Cita citanya membahagiakan Ibu dan Adiknya sampai ia mati, sungguhlah anak yang berbakti.

Seminggu berlalu, namun tak pernah aku jumpai lagi syifa di bawah lampu merah perempatan kota, aku bertanya pada seorang penjaga toko yang sering syifa tempati untuk istirahat. “Mas, anak kecil yang biasa ngamen disini kemana yaa, sudah semingguan aku tak melihatnya” tanyaku. “Ooh Syifa, kmaren hari sabtu ia keserempet bus tambang di pertigaan lampu merah Kantor Pos dan meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit” Jawab penjaga toko itu. Innalillahi wainnailaihi roji’un, dalam hatiku ikut bersedih. Syifa gadis kecil penyambung nyawa keluarganya harus meninggal lebih awal. Cinta Syifa pada keluarganya sampai ia bawa mati. Setelah hari itu aku tak pernah tahu keadaan Ibu dan Adiknya yang masih kecil. Mudahan Allah memberikan jalan terbaik untuk kelurganya sepeninggal Syifa yang penuh cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Full Music Malaysia


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com