Di
sudut toko perempatan lampu merah kota, berdiri seorang gadis kecil dengan
tubuh menggigil dengan memeluk gitar kecilnya. Terdiam memandang ke awan dengan
penuh makna, berharap hujan segera terhenti. Namun gerimis tak kunjung reda,
gadis kecil itu ternganga sembari melindungi gitarnya dari tempiasan gerimis.
Waktu
berlalu, gerimis telah berhenti dan benar benar terhenti, kulihat gadis kecil
itu berjalan melintasi trotoar dan terhenti di bawah lampu merah. Mengangkat
gitar dan memainkannya, entah apa yang ia ucapkan. Benakku berfikir “mungkin ia gadis pengamen, dengan gitar yang
ia bawa seorang diri sembari komat kamit yang tidak aku mengerti apa yang ia
ucapkan”, karena jarak rumah dengan gadis kecil itu lumayan skitar 25
meter.
Benar
ternyata apa yang kupikirkan, gadis kecil tanpa alas kaki memakai celana pendek
warna biru dengan kaos oblong yang lusut itu adalah gadis pengamen, kuamati
beberapa pengemudi memberikan ia sejumlah uang receh. Mukanya yang imut dengan
rambut lurus terurai panjang tak meyakinkanku bahwa ia adalah benar benar gadis
pengamen. Tersentak dengan apa yang kubayangkan “dimanakah orang tuanya, apakah meraka tidak peduli dengan anaknya,
mungkinkah orang tuanya yang memintanya untuk mengamen, dimana tanggung jawab
sebagai orang tua yang seharusnya mengayomi anak anaknya, sungguhkah sekejam
itu orang tuanya”.
Hari
hari berlalu dan sudah seminggu, tanpa kusadari gadis kecil itu terus mengamen
setiap sorenya. Seorang diri seperti hari kmaren berdiri menunggu lampu menyala
merah dan memainkan gitarnya di setiap kendaraan. Aku termenung melihatnya, apakah
yang ia lalukan setiap hari. Mungkinkah orang tuanya tak mampu memberikannya
uang walau sekedar untuk jajanan.
Sore
hari sekitar jam tiga langit mendung, menandakan akan turun hujan di pusat
kota. Benar ternyata hujan turun dengan derasnya, gadis kecil itu mencari cari
tempat untuk berteduh. Hingga akhirnya ia berteduh di depan toko samping rumah
namun masih tempias kena hujan yang di sertai angin. Aku yang tak tega
melihatnya sembari memanggil “sini dek,
berteduh disini saja karena disitu masih tempias oleh hujan” tanpa panjang
kata ia berlari menuju teras rumah dan aku persilahkan duduk di kursi teras
sembari menunggu hujan reda. “Makasih ya
Om”, jawabnya lugu.
Cepatnya
ia akrab dengan orang yang baru ia kenal. Gadis kecil itu adalah Syifa, gadis kecil
yang pertama kulihat tanpa alas kaki memakai celana pendek warna biru dengan
kaos oblong yang lusut berada di tengah keramaian lampu merah kota. Dengan
lembut dan lirih aku bertanya padanya “Dek,
mengapa bisa kamu kok mengamen, dimana Ibu dan bapakmu, mengapa tidak memilih
bermain dengan teman temanmu saja di rumah”. Pertanyaan yang singkat namun
bisa ia pahami, dengan perlahan dan perpotong bahasanya ia menjelaskan tentang
kehidupannya beserta adik dan Ibunya. Serta kusuguhkan teh kotak dan kue ringan
untuknya, kasihan melihatnya. Siapapun orang yang peduli dengan anak anaknya
pasti tidak akan pernah tega melihat gadis kecil ini. Tubuhnya yang kurus, bola
matanya yang sayu, dan kulitnya yang hitam mengkilap seperti tak terawat.
Syifa
mengatakan padaku bahwa dirinya hidup bertiga dengan Adik dan Ibunya. Sedangkan
Bapaknya dua tahun yang lalu meninggalkan mereka sesaat setelah Ibunya
mengalami kecelakaan motor dan kaki tangannya diamputasi. Yah, mungkin inilah
mengapa Bapak Syifa meninggalkan keluarganya, batinku. Dengan raut muka sedih
air mata yang menetes ia terus menceritakan kehidupannya. Setelah di tinggal
Bapaknya, Syifa berusaha mencari makan untuk Adik dan Ibunya dengan mengamen,
terkadang bila lebih uangnya ia simpan dan untuk keperluan sekolahnya. Syifa
gadis kecil yang masih duduk di kelas 5 bangku dasar, namun tanggung jawab dan
pengorbanan pada Ibunya sungguh luar biasa. Ia relakan hari hari bermainnya untuk
mencari uang, untuk mencari makan Adik dan Ibunya. Ia tinggal di rumah yang
berukuran 4X6 meter, rumah yang Ibu Syifa beli dulu sewaktu berjualan sayur di
pasar sebelum mengalami kecelakaan. Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk
memasak nasi dengan kayu bakar, membersihkan rumah sekaligus memandikan Ibunya
walau sekedar mengelap badan Ibunya dengan air. Karena tubuhnya yang masih
kecil ia hanya melakukan apa yang ia mampu. Adiknya yang masih berumur 4 tahun
terkadang ia titipkan pada tetangga sekitar rumah.
Setiap
hari sepulang sekolah ia mengamen diantara pertigaan dan perermpatan lampu
merah kota. Sempat aku bertanya padanya “Syifa,
sampai kapan kamu mengamen”. Ia dengan cekatan menjawab “Tidak tau Om, sampai nanti saya akan terus
berusaha untuk membahagiakan Ibu dan Adik, hanya mereka yang Syifa punya, dan
sampai mati Syifa cinta mereka semua”.
Syifa,
gadis kecil yang penuh dengan cerita. Setiap sore seringkali aku melihatnya di
perempatan bawah lampu merah kota dengan gitar kecilnya. Syifa, gadis kecil
yang mempunyai tanggung jawab besar pada keluarganya. Cita citanya
membahagiakan Ibu dan Adiknya sampai ia mati, sungguhlah anak yang berbakti.
Seminggu
berlalu, namun tak pernah aku jumpai lagi syifa di bawah lampu merah perempatan
kota, aku bertanya pada seorang penjaga toko yang sering syifa tempati untuk
istirahat. “Mas, anak kecil yang biasa
ngamen disini kemana yaa, sudah semingguan aku tak melihatnya” tanyaku. “Ooh Syifa, kmaren hari sabtu ia keserempet
bus tambang di pertigaan lampu merah Kantor Pos dan meninggal dalam perjalanan
ke Rumah Sakit” Jawab penjaga toko itu. Innalillahi
wainnailaihi roji’un, dalam hatiku ikut bersedih. Syifa gadis kecil
penyambung nyawa keluarganya harus meninggal lebih awal. Cinta Syifa pada
keluarganya sampai ia bawa mati. Setelah hari itu aku tak pernah tahu keadaan
Ibu dan Adiknya yang masih kecil. Mudahan Allah memberikan jalan terbaik untuk
kelurganya sepeninggal Syifa yang penuh cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar