Wahai
saudaraku, bangunlah kalian
Dengarkanlah
ayam sekitar berkokok menyambut kita
Mentari
pagi belum menampakkan wujudnya
Mari,
marilah kita bergegas menuju pancuran bambu
Perlahan,
raih dan telusuri jalan lewat alur pagar
Kita
laksankan kewajiban sebagai muslim
Kereta
pagi jurusan Surabaya menggetarkan dinding bambu
Aku
raih tongkat bambu dengan perlahan
Sejengkal
demi jengkal, aku telusuri jalan menuju keramain
Dimana
mereka memberiku uang receh untuk makan
Aku
pertajam pendengaran untuk mencari tau
Ditemani
tongkat bambu untuk bertahan hidup
Walau
aku menatap tajam mereka
Gelap
dan hanyalah gelap yang aku lihat
Sabbar,
kala aku di cemooh
Ikhlas
walau tubuh di hantam lumpur
Namun
mereka adalah penghidupanku
Jangan
dan jangan pernah kalian sentuh tongkatku
Ia
adalah milikku, ia adalah penghidupanku
Jangan
pernah kalian sentuh
Ku
dituntun dalam keramaian
Ku
diarahkan lewat suara kereta
Walau
perlahan aku tetap berusaha
Walau
kecil aku tetap mencoba
Aku
terlahir diantara rel kereta Surabaya
Dengan
gubuk berdinding bambu aku di besarkan
Kini
ku tumbuh dewasa dengan ketidak berdayaanku
Hanya
tongkat bambu ini sebagi penerang jalanku
Aku
buta, dan aku tak bisa melihat
Namun
aku bisa mendengar untuk mencari jalanku
Mencari
dimana aku mendapatkan belas kasihan
Hanya
itu yang aku bisa
Berkat tongkat bambu yang menemaniku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar